Jumat, 08 Juli 2016

Pembentukan Hujan (1)

Bismillah....

Allah-lah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, tiba-tiba mereka bergembira.

(QS. Ar-Rum [30]: 48)

Senin, 27 Juni 2016

Belanjakanlah sebagian rejekimu

"10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: " Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? ".
"(QS. Al Munafiqun [63]: 10)
#AhwalNote http://goo.gl/O80Wt3

Minggu, 17 April 2016

Balasan meninggalkan sholat

 Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis. 
     Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"

     Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."

     Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam."

     Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. 
     Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

     Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?" 
     Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

     Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.

     Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya
     menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."

     Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?" 
     Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :" 
     1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah. 
     2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya. 
     3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama. 
     Maka inilah balasannya.

Allah Maha Penyayang dan Pengasih, juga Maha Pemurah. Namun Allah juga Maha Adil.

Kamis, 03 Maret 2016

Memakai Wewangian ke Masjid

Assalamualaikum..
Bismillah.

Zainab r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian (kaum perempuan) hendak pergi ke masjid, janganlah memakai wewangian." (HR Muslim)

Hadis di atas menjelaskan tentang kebolehan perempuan untuk pergi melaksanakan ibadah ke masjid. Tentang kebolehan ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh mereka sebagaimana ditetapkan para ulama dengan merujuk beberapa hadis. Imam Al-Nawa-wi dalam Syarh Al-Nawawi, juz 4, h. 161, menyebutkan beberapa syarat tsb. diantaranya :
1. Tidak memakaki wewangian, perhiasan, dan pakaian untuk pamer.
2. Tidak membaur dengan kaum laki-laki sehingga bisa menimbulkan fitnah.
3. Tidak ada sesuatu yang dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan dan sebagainya di perjalanan.

(sumber : pesan 12/100 pesan Nabi untuk wanita shalihah, h. 47)

Sedikit pengingat untukku dan juga pembaca. Semoga bermanfaat ^_^

Minggu, 28 Februari 2016

29 Februari 2016

Bismillah..

Hari ini, 29 Februari. Yaa, tanggal yg disebut kabisat karena hanya ada dalam penanggalan umum setiap 4 tahun sekali ini merupakan salah satu kesempatan baik dari Allah bagi kita semua makhluk ciptaanNYA. Sepatutnya banyak ucapan dan wujud syukur yang kita miliki. Alhamdulillah.. Segala puji bagi Allah SWT. Semoga Allah senantiasa membubuhkan rasa syukur di hati semua ciptaan.. Aamiin

Kamis, 19 November 2015

Rumah sendirilah

Ummu Salamah r.a. berkata bahwa nabi besar Muhammad SAW bersabda, "sebaik-baiknya masjid (tempat sholat) bagi perempuan adalah rumah mereka sendiri". (HR Imam Ahmad dan Al-Hakim)

Menurut sepemahaman saya (mohon maaf dan mohon dikoreksi apabila ada yang keliru), kata 'sebaiknya' dalam hadits di atas bukan menggambarkan tentang 'boleh atau tidak' seorang perempuan melaksanakan sholat di tempat selain rumahnya sendiri. Namun lebih bermakna bahwa bagi kaum perempuan sholat lebih 'utama' dilakukan di rumah sendiri. Dalam beberapa kitab pun tertera demikian antara lain dalam kitab Ianatut Tholibin karya Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Ad-Dimyathi juz 2 hal. 5. Selain itu saya rasa alasan paling mendasar adalah karena perempuan sebagai seindah-indahnya makhluk ciptaan Allah maka tidak ada tempat lain yang seaman rumah sendiri sebagai tempat menunaikan ibadah sholat. Semoga barakah dan rahmatan.. :)



Sabtu, 27 Juni 2015

Tsa'labah bin Abdurrahman

Dikisahkan seorang shahabat Rasulullah saw. dari kaum Anshar, bernama Tsa'labah bin Abdurrahman ra. Ia begitu mahabah kepada Rasulullah. Apapun yang diperintahkan Rasulullah, dengan sigap dilaksanakannya.

Suatu saat, ketika Rasulullah memberikan suatu tugas, Tsa’labah berangkat menunaikan amanah tersebut. Dalam perjalanan, ia melalui sebuah kolam mandi untuk wanita. Tanpa sengaja dilihatnya seorang wanita tengah mandi telanjang dikolam tersebut.

Bukan main terkejut dan merasa berdosanya Tsa’labah akan apa yang telah dilakukannya itu. Ia langsung lari sekencang-kencangnya ke sebuah gunung yang terletak antara Mekah dan Madinah.

Ditempat lain, Rasulullah tengah risau menanti kepulangan Tsa’labah. Hingga tiba hari yang ke-40, Malaikat Jibril as. datang menemui beliau, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang lelaki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku’.”
Segera setelah itu Rasulullah memerintahkan Umar bin Khaththab ra. dan Salman al-Farisi ra., 
"Wahai Umar dan Salman! Pergilah kalian mencari Tsa'labah bin Aburrahman, lalu bawalah ia kemari." 

Berangkatlah kedua shahabat Rasulullah menyusuri perbukitan Madinah. Di perjalanan mereka bertemu dengan seorang penggembala bernama Dzufafah. 
"Apakah engkau tahu seorang pemuda Anshar yang datang ke perbukitan ini?", tanya Umar. 
”Hmmm... Jangan-jangan yang kalian maksud adalah seorang lelaki yang berusaha lari dari neraka Jahanam?", jawab Dzufafah.
"Bagaimana engkau tahu bahwa dia tengah kabur dari neraka Jahanam?" tanya Salman.
"Karena bila malam tiba, ketika ia menemui kami, sambil meletakan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, 
’Mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menunggu seperti ini!’", jelas Dzufafah.
"Ya, sepertinya dialah yang kami maksud," ujar Umar. 
Lalu berjalanlah mereka bertiga bersama-sama.

Akhirnya mereka berjumpa dengan Tsa’labah. Umar lalu menghampirinya dan memeluknya. 
"Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?", tanya Tsa’labah.
"Aku tidak tahu, yang jelas beliau menugaskan kami untuk mencarimu", jawab Umar.
”Bila kalian akan membawaku menemui Rasulullah, ku minta, pertemukanlah aku dengannya saat beliau shalat", pinta Tsa’labah.

Begitulah mereka menemukan Rasulullah tengah melakukan shalat. Mereka lalu bergabung mengisi shaf. Saat Tsa'labah mendengar bacaan Rasulullah, ia tersungkur pingsan. 

Selesai Rasulullah mengucapkan salam, beliau bersabda, 
"Wahai Umar! Salman! Apakah yang terjadi pada Tsa'labah?" 
Keduanya menjawab, "Kami tidak tahu Rasulullah!" 
Dengan segera Rasulullah lalu berusaha menyadarkan Tsa'labah, hingga ia sadar. 

Rasulullah lalu bertanya, "Mengapa engkau menghilang dariku, wahai Tsa’labah?" 
"Dosaku, ya Rasulullah!", jawab Tsa’labah ketakutan. 
"Bukankah telah ku ajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa dan kesalahan?", tanya Rasulullah lagi.
"Sudah, ya Rasulullah", jawab Tsa’labah tertunduk. 
Rasulullah lalu bersabda, 
"Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (Al-Baqarah [2]: 201)

Terlihat Tsa’labah semakin tertunduk dan gemetar, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar". 
Rasulullah bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar, wahai Tsa’labah". 

Lalu Rasulullah mengantarnya pulang. Di rumah Tsa’labah jatuh sakit selama seminggu. 

Rasulullah kemudian datang menjenguknya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuannya. Tetapi Tsa'labah malah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
”Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah.
"Karena dosaku berat, ya Rasulullah", rintih Tsa’labah.
”Seberat apakah yang kau rasakan itu?”, tanya Rasulullah lagi.
"Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging dan kulitku!", jerit Tsa'labah. 
"Lalu apa yang kau inginkan, wahai Tsa’labah?", kembali Rasulullah bertanya.
"Ampunan Tuhanku", jawab Tsa’labah dengan muka memelas.

Saat itu juga Malaikat Jibril as. datang dan berkata, 
"Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, 
‘Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula’.” 

Kabar baik itu segera disampaikan Rasulullah kepada Tsa’labah. Begitu gembira hati Tsa’labah mendengar berita itu, hingga ia terpekik dan langsung wafat saat itu juga. 

Saat selesai menyalatkan jenazah Tsa’labah, Rasulullah terlihat berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai prosesi pemakaman, para shahabat bertanya, "Tadi kami melihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat. Mengapa, ya Rasulullah". 
Rasulullah bersabda, "Demi Dzat yang telah mengutus aku! Tadi aku melihat banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa'labah, hingga aku takut menginjak kaki mereka".

ASTAGHFIRULLAAHAL ADHIIM, NA’UDZUBILLAAH TSUMAA NA’UDZUBILLAAH